Tampilkan postingan dengan label menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menarik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2017

Hahai Selepas Pencoblosan Habib Marah Besar Sambil Uring-Uringan!!! Rizieq: Kok Bisa Jari Saya Kecoblos No 2,..wkwkwk Aneh Tapi Nyata,..Keceplosan

Hahai Selepas Pencoblosan Habib Marah Besar Sambil Uring-Uringan!!! Rizieq: Kok Bisa Jari Saya Kecoblos No 2,..wkwkwk Aneh Tapi Nyata,..Keceplosan

Hasil gambar untuk gambar  nyoblos pilkada

Habib Rizieq Shihab selaku Imam Besar Front Pembela Islam hari ini ikut melakukan pencoblosan terhadap calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Dia mencoblos di tempat pemungutan suara 17 yang ada di Gang Paksi, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Dari pantauan di lokasi, nama Mohammad Rizieq Shihab terpampang di nomor 440. Sejak pagi, kawasan ini sudah nampak ramai. Namun di sini tak ada yang istimewa, sama dengan TPS lainnya.

Sejumlah anggota polisi juga terlihat berjaga di TPS. Bahkan TPS hanya menggunakan pelindung terpal berwarna biru untuk menutupi para pemilih tidak kehujanan dan terpapar terik matahari.

Berita Terkait Tak Diberi Izin Gelar Tabliqh Akbar, FPI Minta Pemkab Bertaubat

Berdasarkan pantauan lokasi, belum nampak kedatangan Rizieq ke lokasi. Sedangkan warga mulai tampak hilir berganti datang ke TPS untuk mencoblos.

TPS ini mulai dibuka sejak pukul 07.00 WIB. Proses pencoblosan berakhir pada pukul 12.00 WIB nanti. Setelah itu, petugas langsung menggelar penghitungan suara.

Total setidaknya ada 724 terdaftar sebagai pemilih di TPS 17. Pemilih TPS yang terdaftar terdiri dari warga empat RT, yakni 01, 02, dan 03, RW 04, Petamburan Tiga, Jakarta Pusat.

Namun saat ini wartawan disuruh untuk menjauh dari TPS. Nampaknya Habib Rizieq hendak melakukan pencoblosan. (elf/JPG)[sbr]

Denger-denger habib coblos no 2 kok bisa ya?????????

Pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat menang dalam perolehan suara di TPS 17 Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 
 Penghitungan suara di TPS RT 03 RW 04, tempat Habib Rizieq Syihab mencoblos, ini selesai pada pukul 15.27 WIB, Rabu (15/2/2017). Ahok mengungguli perolehan suara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.


Hasil final perolehan suara di TPS 17 Petamburan tempat Habib Rizieq Syihab mencoblos, Rabu (15/7/2017)Hasil final perolehan suara di TPS 17 Petamburan tempat Habib Rizieq Syihab mencoblos, Rabu (15/7/2017). Foto: Nita Sari/detikcom


Agus-Sylvi mendapat 38 suara, Ahok-Djarot 279 suara, dan Anies-Sandiaga 212 suara. Total surat suara terpakai 534 dengan surat suara tidak sah sebanyak 5 lembar. 

Warga sudah tidak banyak yang berkumpul saat hasil akhir penghitungan suara dibacakan petugas. Di sejumlah TPS, penghitungan suara sudah selesai dilakukan.[SBR]

Sabtu, 07 Januari 2017

Tak Guna Punya Anak !! Lelaki Ini Bersyukur Karna Ibunya Meninggal!! Baca Ini Kalau Berani..

Banyak orang menyaksikannya, menyalaminya, serta mengatakan belasungkawa atas wafatnya wanita yang sudah membesarkannya. Nyaris tidak ada sedikitpun rasa perasaan sedih di diwajahnya..

Serta senyumnya yang ramah itu mengundang sinyal pertanyaan dipikiran banyak pelayat, termasuk juga saudari salah satunya.

Dia berdiri di pinggir kuburan melihat liang kubur seakan-akan menginginkan untuk mengukur luasnya liang lahat tersebut. lalu masuk ke dalam untuk membantu pemakaman ibunya meskipun tanah basah mengotori jas yang digunakannya.

Sesekali dia tersenyum melihat muka ibunya yang kaku serta tidak dapat membuka matanya lagi.  sekali lagi tak ada perasaan sedih diwajahnya mengakibatkan beberapa pelayat mengajukan  pertanyaan, ‘Ada apa pada dirinya serta ibunya? ’.

Beberapa orang sudah pergi meninggalkannya yang masihlah berdiri di pinggir kuburan sang ibu. Saudarinya juga sudah menyuruhnya untuk pergi terlebih dahulu untuk mengurusi suami dan juga anak-anaknya.

Sementara itu dia terus berdiri di sana, sendirian, akan tetapi , tanpa ada sedikitpun rasa sedih diwajahnya. Sesekali dia tersenyum seolah ibu menyaksikannya dari dalam.

“Bolehkah saya mengajukan pertanyaan kepadamu nak? ” Sapaan pak ustadz dari belakang mengagetkannya.

Dia melihat kebelakang serta mengangguk kecil sembari tersenyum.

Pak ustadz lantas berdiri disamping kanannya, “Saya hanya ingin meluruskan rasa penasaran warga terhadapmu nak ?, ada apa pada dirimu dan juga kepada ibumu? ”
“Maksudnya pak? ”

“Yaaah, kami tak lihat sedikitpun rasa sedih di wajahmu. ”

Sekali lagi dia tersenyum serta memandang pusara sang ibu, “Ayahku wafat waktu saya diusia remaja,  dia bapak yang begitu baik walaupun pekerjaannya
pas-pasan. Dia bertanggung jawab penuh terhadap kami lebih dari apa pun. Namun saya begitu membangkang terhadap orang tua saya termasuk kepada bapak saya. ”

“Di hari terakhir ayahku, saya berkelahi hebat dengannya bahkan saya juga meyumpahinya karna lantaran dia tidak membelikan saya handphone yang kuinginkan. Saya takkan lupa waktu ayahku usai dikuburkan, pak ustadz.

Ibuku menangis setiap hari, badannya melemah serta mengurusi. Tetapi dia tidak berhenti berkeliling menjual bakwan keseluruh kampung walau sebagian bakwan yang terjual itu berasa asin bercampur dengan air matanya. ”

“Aku memandangnya setiap waktu pak, serta saya tak dapat berhenti menyalahkan diriku yang sudah membawa kekecewaan di muka ayahku waktu dia wafat. Mulai sejak itu, saya memberikan keyakinan diriku kalau kelak ibuku bakal alami hal yang sama. Dia bakal wafat, dia bakal wafat, serta dia bakal wafat. Serta itu cuma permasalahan . ”

“Pikiran itu selalu menghantuiku serta memaksaku meski kulakukan suatu hal.  Dan saya tidak  lagi bisa melakukan kekeliruan yang sama dengan ayahku. Saya merubah semuanya mengenai hidupku, baik duniaku ataupun agamaku, lantaran sehari-harinya saya memikirkan mungkin saja besok yaitu hari paling akhir ibuku. Sampai saya ada di posisi seperti ini, pak ustadz. ”

Saya bersukur, ibuku wafat saat saya tak akan membebani hidupnya.
Saya bersukur, ibuku wafat sesudah saya memberikannya cucu yang sehat serta berbakti.
Saya bersukur, ibuku wafat waktu saat tuanya cuma tinggal memikirkan ibadahnya.
Saya bersukur, ibuku wafat dengan menepuk dada setiap saat dia menceritakan mengenaiku serta saudariku.
Saya bersukur, ibuku wafat di tempat tinggalnya serta bukanlah di kontrakannya.
Saya bersukur, ibuku wafat saat ini, pk ustadz.
Saya bersukur, ibuku wafat penuh kebahagiaan lantaran saya serta saudariku senantiasa menghubunginya setiap saat bertanya beritanya serta bercerita berita kami. ”

Dia mulai meneteskan air mata, serta mulai mengalir deras, walau bibirnya terus-terusan mengukirkan senyum yang menyejukkan.

“Dan saya bersukur, pak ustadz. Saya bersyukur, ibuku wafat tanpa ada membawa kekecewaan kealam sana serta meyakini kalau saya serta saudariku selalu memberikannya kebanggaan yang bakal dikatakannya pada Tuhan serta pada ayahku. Penyesalanku saat ini, saya harus terus bersabar untuk memandang senyumnya serta mendengar tawanya lagi. ”

Kamis, 05 Januari 2017

Isi Chat Si Cewek Matre Yang Blak-Blakan Tolak Cowok Ini Bikin Nyesek, Mak jleb !!!

Isi Chat Si Cewek Matre Yang Blak-Blakan Tolak Cowok Ini Bikin Nyesek, Mak jleb !!!

Ada pepatah mengatakan kejujuran itu memang terkadang menyakitkan. Kita seringkali takut berkata jujur karena khawatir jika kita menyampaikan alasan yang sebenarnya, nantinya dapat melukai perasaan orang lain. Namun apa yang dilakukan cewek ini sungguh berani dan jujur dalam mengutarakan isi hatinya.
Entah bagaimana awal percakapan mereka, Steve kemudian memberanikan diri untuk berkata terus terang.

"Sebenarnya aku suka Tin sama kamu, aku udah lama banget mendem ini perasaan aku gamau mendem lama2 karena gaenak wkwk berasa ada yang kurang gituuuu.. kamu mau gak tin jadi pacarku?" kata Steve.

Membaca kata-kata Steve, Agustin pun menjawab 3 menit kemudian dengan jawaban yang bikin lelaki manapun nyesek dan ngelus dada. Begini isinya:
                                    

"Stev, sorry ya gua gaenak sebenarnya mau ngomong ini tapi gua malu punya cowok yang naiknya motor matic kerja pun cuma jadi karyawan yang hasilnya paling cuma sejuta dua juta bukan gimana tapi gua gak mau hidup susah.. gua gak terbiasa hidup susah stev.." kata Agustin.

Tak hanya itu, Agustin pun tidak keberatan jika sewaktu-waktu Steve butuh bantuan. "Sorry ya kita temenan aja, nanti kalo lo butuh gua atau mau ngutang duit ke gua selalu ada kok buat lo.." tandasnya.

Membaca percakapan menohok itu, para netizen pun punya komentar tersendiri. "Nggak salah ceweknya sih kalau mau hidup sejahtera, nyari pasangan harus sepadan biar ga jomplang, penolakan di awal seperti ini lebih baik daripada perceraian di akhir yang alasanya mungkin karena ekonomi," kata Andhy Rheza Rahadian.

Namun ada pula netizen yang kurang setuju dengan sikap Agustin.
"Tuch cwe malu krn cwo yg nembak dia cm punya motor matic.. Apakabarnya cwo gw yg cm punya motor vespa butut... Smpe ortu gw nanya km yakin pacaran sm cwo ky gitu dr tampang aja dah gak ada jaminan bkalan bkin hidup kamu bahagia, smpe di suruh putus sm temen2 dan jg saudara...Tapi hidup itu proses, klo km yakin pasti ada jalan, gw gak liat seberapa besar penghasilan dia tp yg gw liat seberapa besar dia mau berjuang buat gw dan mau menjadi lebih baik di mata keluarga gw dan temen2 gw... Alhamdulillah kita sampai menikah dan dia skrng punya pekerjaan yg jauh lebih baik dari sebelumnya... Wanita seperti apa akan menghasilkan lelaki seperti apa, begitupun sebaliknya.. Gw bersyukur bs mendampingi cwo yg skrng jd suami gw dr bawah dan dr keadaan paling buruk sekalipun... Dan berjuang bersama2 itu jauh lebih indah.." cerita Isma Cipluk membandingkan dengan kisah hidupnya.

Kalau menurut kamu gimana? 


Sumber : http://www.sebarkanberita.com

http://beradab.com

Kamis, 20 Oktober 2016

Surat Terbuka Buat Bapa Saudara Guna Duit Derma Anak Yatim

Surat Terbuka Buat Bapa Saudara Guna Duit Derma Anak Yatim



Kisah menggunakan duit derma anak yatim kini menjadi topik hangat.

Bapa saudara mereka bernama Faizznur didakwa pecah amanah dan menggunakan wang derma anak yatim tersebut.

Dakwaan ini dibuta oleh kakak Faizznur sendiri yang kini menjaga anak-anak yatim tersebut.

Kerana kes ini, seorang anak yatim yang kini bekerja sebagai seorang kaunselor telah meluahkan perasaannya.

Dia pernah dianiaya oleh bapa saudaranya yang songlap duit derma untuknya sebagai anak yatim.

Jom baca:

Assalamualaikum. Hai, nama saya Amani, graduan UIA dalam bidang psikologi dan kini memegang jawatan sebagai seorang kaunselor di sebuah jabatan kerajaan. 

Saya juga merupakan seorang anak yatim piatu yang kematian ibu dan ayah ketika masih kecil.

Saya terbaca tentang keadaan dua anak kecil yang 'dimakan' haknya oleh bapa saudara sendiri. 


Mungkin ramai yang tidak tahu kesan dan akibat daripada perbuatan terkutuk ini terhadap golongan-golongan terpilih seperti kami. Jadi, dengan lafaz bismillahirahmanirahim, saya tulis surat ini untuk Encik Faizz agar dapat diteliti dan diamati dengan jiwa yang tenang.

Saya kematian ibu dan ayah pada usia 7 tahun dan kini saya berusia 26 tahun. Mungkin nasib saya sedikit baik sebab saya sudah memahami apa itu kematian. Saya juga mempunyai dua orang abang dan mana masing-masing bekerja sebagai pegawai bank dan pensyarah di UiTM.

Ketika ibu dan ayah meninggalkan kami, kami pada awalnya 'dijaja' kononnya bapa saudara kami akan membela kami kerana dia mempunyai pekerjaan yang bagus dan boleh menampung kami tiga beradik yatim piatu. Malangnya, kata-kata itu semua hanyalah tinggal kata-kata si bapa saudara yang kami panggil sebagai Pak Ya.

Ya, Pak Ya seorang yang agak berada. Arwah ibu kami ialah kakak kandungnya dan arwah ayah pula anak tunggal. Jadinya sebelah arwah ayah kami tiada saudara mara.

Jadi awalnya semua bersetuju untuk kami tinggal bersama dengan Pak Ya. Lama juga kami tinggal dengan Pak Ya. 


Tetapi zaman kami tak macam zaman anak yatim sekarang. Kami dulu walaupun tinggal dengan bapa saudara sendiri, kami dikerahkan untuk bekerja. Saya disuruh mengemas rumah setiap hari sebelum pergi ke sekolah dan selepas pulang dari sekolah. Abang Long dan Abang Ngah pula diarah untuk menolong atok saudara di bendang. Kami tidak dibenarkan berkawan dengan kawan-kawan kampung sebab menurut Pak Ya, anak-anak kampung otaknya tidak bagus.

Selang enam bulan kemudian, ibu saudara kami mendapat tahu yang kami diperlakukan seperti itu sehingga pelajaran kami terabai. Yuran persekolahan kami juga tidak dibayar. Malah, buku-buku sekolah kami diminta untuk berkongsi. Pakaian sekolah? Disuruh memakai pakaian dari lebihan baju anak-anak Pak Ya.

Ibu saudara yang kami panggil sebagai Umi, menanggis melihat keadaan kami. Pada ketika itu, Umi baru berusia 30-an dan masih belum berkahwin. Umi adik bongsu ibu yang sangat sayangkan kami. keadaan Umi dalam kejadian yang menimpa saya samalah juga sebagaimana ibu saudara mangsa DUKE yang sedih melihat nasib anak-anak saudara.

Umi membuat keputusan untuk mengambil kami bertiga untuk dijaganya. Pada ketika itu juga, Pak Ya bertegas untuk tidak melepaskan kami. Tahu kerana apa? Kerana Pak Ya menerima wang sumbangan dari orang kampung dan kawasan kejiranan ini. Pak Ya bimbang andai Umi mengambil kami, tiada lagi sumbangan yang akan diterimanya.

Umi berkeras untuk melaporkan perkara itu kepada pihak berkuasa sekiranya Pak Ya enggan melepaskan kami. Maka selepas berbincang, kami tinggal dengan Umi.


 Pada ketika itu, barulah kami merasa bahagia. Umi menjaga kami dengan penuh kasih sayang. Umi mengajar kami apa-apa yang kami tidak faham di sekolah dan turut mengajar kami bagaimana hidup tidak bergantung kepada orang lain.

Ramai yang melamar Umi tetapi Umi menolak dengan cara yang baik semata-mata mahu menjaga kami.

Cerita Pak Ya pula, dia masih lagi menerima sumbangan, bahkah cerita tentang perihal kami adik beradik yatim piatu dicanangnya ke merata tempat. Sehinggalah tabung anak-anak yatim buat kami penuh diterimanya.

Suatu hari, Umi pergi ke rumah Pak Ya kerana Umi kekurangan duit untuk membayar yuran pengajian Abang Long. Umi minta Pak Ya apa yang menjadi hak kami. Tetapi malangnya Pak Ya enggan memberi. Katanya duit itu adalah kepunyaannya kerana dia yang bersusah payah meminta daripada orang ramai untuk menderma.

Saya pada ketika itu berusia 15 tahun mula sedih dengan sikap Pak Ya. Sedih kerana Abang Long saya akan menyambung pengajian tetapi wang yang sepatutnye menjadi hak kami ditidakkan oleh bapa saudara sendiri. Umi berkeras meminta tetapi malangnya Umi dihalau keluar.

Akhirnya kami pulang dengan tangan kosong. Ketika itu saya melihat Umi termenung panjang. Dia berfikir cara terbaik untuk mendapatkan duit bagi membayar yuran pengajian Abang Long. Abang Ngah pula bakal menduduki peperiksaan SPM dan saya PMR. Umi kelihatan tua dari usianya kerana Umi letih mencari duit untuk menyara kami sedangkan Pak Ya bersenang lenang dan bermewah dengan duit sumbangan yang sepatutnya diberikan kepada kami.

Malam harinya, kami melihat Umi menangis sementara menunggu waktu Isyak. Jadinya, Abang Long ajak kami tiga beradik untuk menceriakan Umi. Caranya, kami solat jemaah bersama-sama. Habis solat isyak, Abang Long berdoa dan sehingga kini saya masih lagi ingat doanya itu.

"Ya Allah, kami ini anak yatim paitu. Yang tiada sesiapa pedulikan kami melainkan ibu saudara kami. Dan kini ibu saudara kami ini sedang bersedih, maka kami memohon padaMu wahai Tuhan, tariklah nikmat kemewahan mereka-mereka yang menganiaya kami dan jadikanlah mereka manusia yang berada dalam kesedihan"

Selesai doa ini, Umi menangis lebih kuat dan memeluk Abang Long dan merayu agar menarik balik doa tersebut. Tahu kenapa Umi berbuat demikian? Kerana Umi takut abangnya terkena balasan atas penganiayaan yang dilakukan terhadap kami bertiga, anak yatim paitu.

Dan benarlah, doa anak-anak yatim, doa fakir miskin, doa orang-orang yang dianiaya tidak sesekali dibiarkan oleh Allah. Bahkan doa-doa golongan sebegini tiada hijab di sisi Allah.

Selang beberapa tahun, Pak Ya ditahan oleh Badan Pencegah Rasuah (BPR yang kini SPRM) kerana mempunyai skandal rasuah. Atas kesalahan itu, seluruh harta Pak Ya disita dan semua wang simpanannya habis dibekukan.

Pada masa yang sama, anaknya sakit teruk dan isterinya pula meninggal dunia. Pak Ya bagaikan orang gila apabila sering meracau dan apabila bertemu dengan kami, Pak Ya bagaikan tidak keruan. Hidup Pak Ya tidak lagi seperti dulu.

Umi sedih melihat keadaan abangnya dan memohon kepada Abang Long dan kami semua untuk memaafkan Pak Ya dan seluruh keluarganya yang telah berbuat jahat dengan mengambil hak-hak kami dan menidakkan hak kami. Sehingga kini, Pak Ya hidup sebatang kara. Anak-anak semua mengabaikan dia dan Pak Ya kini dihantar ke pusat jagaan orang tua.

Umi masih bersama kami, Umi tempat kami bermadu kasih. Umi sanggup berkorban kebahagiaannya untuk tidak berumahtangga demi membesarkan kami dan setiap hari jugalah Umi meminta kami agar memaafkan Pak Ya kerana kasihankan keadaan Pak Ya yang seteruk itu.

Namun bagi kami, melihat kesedihan Umi jauh lebih kami fikirkan berbanding kesedihan Pak Ya. Sehingga kini kami bertiga masih belum mampu 'menghalalkan' duit yang digunapakai oleh Pak Ya untuk kepentingan dirinya dan keluarga. Bagi kami, biarlah Allah sahaja yang menentukan pengakhiran hidup Pak Ya.

Jadi, nasihat saya kepada Encik Faizz, beringatlah. Doa anak-anak yatim itu tiada hijabnya di sisi Allah lebih-lebih lagi mereka masih dalam keadaan suci bersih hatinya. Moga Encik Faizz masih mempunyai masa yang cukup untuk menggantikan duit anak-anak yatim itu andai benar Encik Faizz menggunakannya.

Sekalipun mereka masih kecil, mereka tiada siapa untuk melindungi, mereka masih mempunyai Allah yang melihat setiap air mata mereka. Ya Maha Mendengarkan doa-doa malam hari mereka. Yang Maha Mengetahui isi hati mereka. Jangan sampai Allah terbalikkan kesedihan mereka terhadap keluarga Encik Faizz. Ketika itu tiada lagi jalan untuk Encik Faizz berjalan dan tiada lagi ruang untuk Encik Faizz mencari peluang.

Semoga surat ini mampu 'menjentik' hati kecil Encik Faizz sekeluarga untuk bertaubat.

Salam Ibrah dari saya.
Nur Amani, si yatim piatu.
Si Anak Yatim Piatu


Kisah ini diluahkan di laman FB IIUM Confession oleh seorang anak yatim yang pernah dianiaya.

7 Foto: Tengku Permaisuri Selangor Mengalir Air Mata Melihat Persembahan Anak Istimewa

7 Foto: Tengku Permaisuri Selangor Mengalir Air Mata Melihat Persembahan Anak Istimewa


Isteri Sultan Selangor yang baru, Tengku Permaisuri Norashikin diihat mengalirkan air mata selepas menonton persembahan anak-anak istimewa.

Anak-anak istimewa  itu dari Persatuan Kanak-Kanak Spastik Selangor dan Wilayah Persekutuan (SCASFT).

Mereka telah melakukan persembahan sepenuh hati untuk dipersembahkan kepada Sultan Selangor dan Tengku Permaisuri.

Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah serta Raja Muda Selangor Tengku Amir Shah turut mencemar duli meluangkan masa melawat dan beramah mesra dengan anak-anak SCASFT.

Baginda juga sempat menghadiahkan cendermata kepada hampir 100 kanak-kanak spastik yang terdiri daripada lapisan umur dan kaum.

SCASFT menerima sumbangan sebanyak RM400,000 untuk program Pembangunan Semula Spastik meliputi perkhidmatan rawatan pemulihan seperti fisoterapi, hidroterapi dan pendidikan khas.

Ini gambar lawatan ini: